Minggu, 08 Mei 2011

Perkembangan investasi dan tingkat bunga di Indonesia

Data yang dikeluarkan BPS baru-baru ini memperlihatkan perkembangan indikator-indikator ekonomi makro yang menuju perbaikan. Tingkat inflasi Januari – April 2003 sebesar 0,.92% dan angka ini jauh lebih rendah daripada periode yang sama tahun 2002 yang mencapai 3,26% dan tahun 2001 yang mencapai 2,57%. Perbaikan ini sejalan dengan tingkat inflasi April 2003 berdasarkan year on year  yang hanya 7,54%, jauh lebih rendah daripada April 2002 yang mencapai 13,30% dan April 2001 yang mencapai 10,51%. Tingkat diskonto SBI untuk jangka waktu 1 bulan pada akhir Mei 2003 sudah berada di 10,68%. Sedangkan nilai tukar Rupiah terus menguat menjauhi target Rp. 9.000 per dollar AS dimana saat tulisan ini dibuat sudah mencapai Rp. 8.165 per dollar AS.
Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan bahwa tingkat inflasi tahun 2003 diperkirakan 9,3% jika pemerintah memutuskan untuk meningkatkan harga BBM, listrik dan telpon. Apabila tidak terjadi maka tingkat inflasi tahun ini bisa lebih rendah lagi. Untuk tahun 2004, tingkat inflasi diperkirakan tidak terlalu banyak turun, sekitar 9,2%, karena peningkatan permintaan, keterbatasan daya serap tenaga kerja dan naiknya harga BBM, listrik serta telpon. Tingkat sukubunga pun akan terus memperlihatkan tren penurunan untuk mendorong sektor perbankan memberikan suku bunga kredit yang lebih murah dan mengurangi pembayaran bunga Obligasi Pemerintah. Adapun rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS, EIU memperkirakan akan mencapai 8.916 untuk tahun 2003 dan 9.104 untuk tahun 2004.
Selama ini kesinambungan pertumbuhan permintaan agregat ditopang oleh konsumsi privat disamping faktor lainnya yaitu ekspor dan impor. Pada triwulan pertama 2003 ini kegiatan ekspor mulai pulih dengan nilai ekspor bulan Maret 2003 mencapai US$ 5,07 milyar yang merupakan nilai tertinggi dalam kurun waktu 18 bulan terakhir. Kinerja ekspor pada Maret 2003 ini naik 3,85% dibandingkan dengan Februari 2003. Pada periode yang sama impor mengalami penurunan sebesar 2,53% menjadi US$ 2,88 milyar. Perkembangan ini menciptakan surplus perdagangan US$ 2,19%, lebih tinggi daripada bulan Februari 2003 yang mencapai US$ 1,92 milyar. BPS mengatakan bahwa kenaikan ekspor mengikuti pola siklus menaik alami karena pada umumnya perdagangan dunia baru bergerak pada bulan itu. Adapun penurunan kinerja impor disebabkan melemahnya konsumsi domestik yang terutama dipicu oleh ketidakpastian perekonomian global dan prospek tersedianya lapangan kerja.
Impor bahan baku/penolong mengalami pertumbuhan yang sangat baik, yaitu 34%, meskipun impor barang modal hanya naik 6% dan impor barang konsumsi naik 28%. Hal ini memperlihatkan bahwa peningkatan produksi lebih banyak disebabkan oleh pemanfaatan kapasitas yang belum terpakai sepenuhnya ketimbangan adanya investasi baru.
Tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar Rupiah adalah variabel yang mempengaruhi unsur-unsur di dalam permintaan agregat yang meliputi konsumsi privat, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor. Dengan semakin membaiknya ketiga indikator ini, secara teoritis besaran permintaan agregat juga akan mengalami perbaikan. Namun perkembangan yang menjanjikan ini belum secerah gambaran disektor ril. Kontribusi investasi baru 16,4%  karena terhambat oleh permasalahan struktural. Peran konsumsi sebagai mesin pertumbuhan tentu ada batasnya dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Pemerintah memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun 2003 berkisar 4%. Meskipun terdapat optimisme perekonomian bisa lebih baik daripada tahun lalu, tapi Bank Dunia mengingatkan bahwa perkembangan dalam enam bulan ke depan akan ditentukan oleh faktor-faktor yang tak terjangkau kendali pembuat kebijakan. Invasi AS ke Irak, dan berjangkitnya wabah penyakit SARS memberikan dampak yang mendalam bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bank Dunia memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2003 akan tumbuh sebesar 3,3% dan tahun 2004 sebesar 4% dengan asumsi Pemilu dapat berjalan mulus. Sedangkan Asia Development Bank (ADB) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2003 sebesar 0,5% menjadi 3,2% apabila wabah SARS berjangkit sampai kuartal kedua 2003. Jika SARS terus berjangkit hingga kuartal ketiga 2003, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan menjadi 2,3%.
Sedangkan analis Citibank, Donald Hanna, memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh sekitar 4% pada tahun ini dan 5% pada tahun 2004. Pertumbuhan ini dipicu oleh kestabilan harga dan stimulus ekonomi yang diluncurkan oleh Pemerintah. Studi yang dilakukan Economist Intelligence Unit memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar pada 3,1% pada tahun 2003 dan 4,0% pada tahun 2004.
Dampak Perkembangan Ekonomi Makro Terhadap Bisnis Asuransi
Setidaknya ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan asuransi jiwa di Indonesia. Ketiga faktor tersebut adalah (i) ratio pemegang polis dengan jumlah penduduk, (ii) perkembangan premi bruto, dan (iii) fluktuasi nilai tukar USD/IDR. Faktor (i) dan (ii) sangat terkait dengan pola konsumsi masyarakat dan daya beli konsumen (disposable income), serta kesadaran masyarakat akan kebutuhan asuransi jiwa dan tingkat kepercayaan terhadap industri asuransi jiwa. Adapun untuk asuransi umum, faktor-faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhannya adalah pertumbuhan ekonomi di sektor riil, serta fluktuasi nilai tukar USD/IDR.  
Inflasi secara langsung mempengaruhi kinerja (tingkat laba) perusahaan di sektor riil serta daya beli masyarakat. Kenaikan inflasi di suatu periode dapat meningkatkan biaya produksi sehingga mengurangi laba perusahaan. Kenaikan inflasi juga dapat melemahkan daya beli masyarakat. Perkembangan terakhir memperlihatkan bahwa tingkat inflasi sudah pada level yang cukup baik dan terkendali, dimana tren ini merupakan sinyal positif bagi kinerja perusahaan dan daya beli masyarakat.
Variabel lain yang menentukan pertumbuhan ekonomi di sektor riil adalah tingkat suku bunga. Tingkat suku bunga merupakan landasan atau ukuran bagi layak atau tidak layaknya suatu usaha/investasi. Tingkat suku bunga juga merupakan indikator penentuan tingkat pengembalian modal atas risiko yang ditanggung oleh pemilik modal di pasar keuangan dan pasar modal. Tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor riil ke arah yang lebih baik. Meskipun Bank Indonesia secara bertahap sudah menurunkan tingkat diskonto SBI, hingga saat ini perbankan nasional masih belum mengikutinya dengan penurunan suku bunga kredit.
Inflasi yang rendah dan terkendali, tingkat suku bunga yang rendah serta nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang stabil, merupakan sinyal positif yang mempengaruhi keputusan pelaku usaha/perusahaan untuk melakukan investasi, selain faktor-faktor non-ekonomi lainnya. Sektor riil yang bergerak memberikan peluang peningkatan permintaan pelaku usaha atas asuransi umum. Sinyal positif ini juga akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga permintaan mereka atas asuransi jiwa juga diharapkan dapat meningkat. Hal ini memberikan harapan baru bagi asuransi jiwa dan asuransi umum dalam pertumbuhan pangsa pasarnya. Semakin besar pangsa pasar asuransi yang tergarap, secara otomatis makin besar juga pangsa pasar reasuransi.
Bagaimana perkembangan makro ekonomi ke depan dan pengaruhnya terhadap bisnis asuransi jiwa dan asuransi umum? Penulis mencoba melakukan analisa dengan menggunakan tiga skenario.
Skenario pertama: suku bunga turun, nilai tukar stabil, inflasi menurun, iklim investasi membaik dan kondisi sosial politik stabil,  maka sektor riil bergerak, daya beli naik, tingkat kepercayaan konsumen tumbuh, permintaan asuransi jiwa dan asuransi umum naik, pangsa asuransi jiwa dan asuransi umum tumbuh cukup tinggi. Strategi yang dapat diambil dalam mengantisipasi skenario ini antara lain memperkuat modal untuk menunjang pertumbuhan bisnis, inovasi produk dan saluran distribusi, meningkatkan kerjasama internasional untuk memperkuat daya saing dan memperluas pasar, serta fokus pada yield investasi dengan memperhatikan tingkat risiko.
Skenario kedua: suku bunga turun, nilai tukar stabil, inflasi menurun, tapi sektor riil tidak bergerak, maka penggangguran meningkat, daya beli menurun, tingkat kepercayaan konsumen menurun, permintaan asuransi jiwa dan asuransi umum turun atau tidak bergerak, sehingga pangsa pasar asuransi tidak tumbuh atau tumbuh kecil, akses modal juga semakin sulit. Strategi yang dapat dipilih antara lain meningkatkan kerjasama internasional untuk memperluas pasar internasional, manajemen risiko yang ketat, inovasi produk, fokus pada pasar retail yang akan tumbuh pesat,  menjaga kebijakan investasi yang konservatif.
Skenario ketiga: indikator moneter memburuk dan sektor riil kembali terpukul, maka penggangguran meningkat, sosial politik mulai tidak stabil, daya beli menurun, risiko asuransi meningkat, sehingga tarif premi naik dengan kapatasitas yang terbatas dan mahal, pada akhirnya industri asuransi terpukul. Strategi yang dapat diambil adalah manajemen risiko yang lebih ketat, fokus pada hasil underwriting bersih bukan pertumbuhan premi, kebijakan investasi hanya pada sekuritas bebas risiko.
Apapun yang akan terjadi pada perekonomian nasional di masa datang selalu membawa dua sisi yang saling bertentangan. Ibarat dua sisi mata uang, di dalam setiap perubahan akan ada kesempatan dan risiko. Kejelian dan kreativitas yang dibayangi dengan optimisme yang realistis sangat dibutuhkan untuk menangkap dan memanfaatkan setiap peluang yang dihasilkan oleh perubahan. (Novis)

0 comments:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Facebook Favorites